"Mohon Maaf untuk sementara website ini tidak bisa dibuka menggunakan Internet Explorer(ie),
silakan menggunakan browser yang lain.
Jika belum diinstall, silakan download di link berikut ini :
Mozilla firefox
Opera
Safari
Universitas Negeri Yogyakarta

BEDAH BUKU DAN TALK SHOW “KETIKA CINTA BERTASBIH”

Bedah Buku Dan Talk Show “KETIKA CINTA BERTASBIH”

           Ketika Cinta Bertasbih , Azzam seorang mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Kairo-Mesir. Kuliahnya tertunda selama 9 tahun setelah ayahnya meninggal dunia, sehingga demi menghidupi dirinya dan keluarganya di Solo Azzam berdagang bakso dan tempe di Kairo-Mesir. Namun dari pekerjaannya itulah, ia menjadi terkenal di kalangan KBRI di Kairo, dan mempertemukannya dengan Eliana (Alice Norin), gadis cantik-modern, putri Dubes RI di Mesir. Demikian cuplikan Talk Show dan Bedah Buku "KETIKA CINTA BERTASBIH" yang diselenggarakan oleh UKMF KMIP pada hari Jum'at (24/4) bertempat di  Ruang Serbaguna FIP  UNY. Hadir pada acara ini empat pemeran utam yang bermain dalam film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) dan para peserta audisi jogja yang meski tidak ikut bermain dalam film ini namun mengaku tali silaturahmi masih tetap terjalin. Pada kesempatan kali ini acara dibuka oleh Bambang Saptono,M.Si. selaku PD III FIP UNY.
            
            Kemudian dilanjutkan dengan acara bedah buku KCB yang dipandu oleh Sidiq (mahasiswa PGSD FIP UNY) dan selaku pembedah oleh Sujatmiko yang biasa dipanggil Kang Jati (FBS), dalam bedah buku KCB ini lebih banyak dibahas representasi novel KCB dalam filmnya yang disutradarai oleh Chairul Umam. Menurut Jati Tokoh Azzam dalam novel yang digambarkan sebagai penjual tempe, kurang sesuai dengan pemeran Azzam dalam film KCB yang menurut beliau karakternya terlalu ideal. Karena didalam novelnya sendiri tokoh Azzam tidak pernah digambarkan sebagai tokoh yang tampan, cerdas juga banyak wanita yang tertarik padanya. Namun itulah bedanya antara "ruang -ruang dunia visual yang harus lebih banyak komprominya dibandingkan dengan ruang-ruang dunia tulisan yang setiap kita mempunyai hak untuk menafsirkan, mengimajinasiakan dan untuk memuat bayangan yang amat personal. Dan setidaknya tokoh itu dapat menghantarkan pada titik untuk kita menciptakan kenyataan yang sifatnya imaginer dalam benak kita tentang apa yang diceritakan penlis novel, tentang tokoh Azzam. Dan inti baik dari Novel maupun dari film KCB ini merupakan "culture struggle" yaitu nilai-nilai islami, Begitulah beberapa hal yang dipaparkan pembedah dalam sesi acara bedah buku KCB.
 
           Setelah acara pembuka yang dilanjutkan dengan bedah buku KCB selanjutnya adalah acara talk show bersama empat orang pemeran utama dalam film "Ketika Cinta Bertasbih" ini merupakan acara yang paling ditunggu oleh para peserta yang hadir memenuhi Ruang Serba Guna FIP UNY. Dalam acara talk show yang dipandu oleh Alvian ramadhan tersebut, para pemeran mengaku banyak mendapat ilmu baru, utamanya dapat lebih mendalami islam dan karena dalam film ini setting tempatnya diambil di Mesir, jadi para pemeran dituntut untuk dapat menguasai bahasa Arab. Pada pertengahan sesi acara talk show ini, para peserta sempat dibuat terharu  oleh kisah spiritual salah seorang pemeran film KCB ini. karena ia merasa ilmu agamanya masih dangkal jika dibandingkan dengan teman sekarantinanya (saat ia menjalani karantina untuk film KCB ini). Lantaran teman-temannya sering menjalankan ibadah-ibadah sunnah. "Saya ingin mendalami ilmu agama agar paling tidak bisa menyamai teman-teman (sekarantina:red) atau sedikit lebih dari mereka." Katanya dengan nada sedih.(Ant)
 

Index
| A | B | D | E | F | G | I | J | K | L | M | P | R | S | T | U | V | W | E
Copyright 2009 by Tim Web UNY