SURYA PURNAMA : Mengukir Prestasi dari Hobi

SURYA PURNAMA Mengukir Prestasi dari Hobi
Dari hobi mengamati burung prestasi demi prestasi ditorehkan oleh Surya Purnama, mahasiswa Biologi Non Kependidikan FMIPA UNY angkatan 2003. Prestasi terakhir yang ditorehnya ia tercatat sebagai salah satu peserta termuda dan bersama dua pengamat burung Indonesia, merupakan orang Indonesia pertama yang hadir di konferensi ornitologi (ilmu tentang burung) internasional The 5th Australasian Ornithological Conference (AOC) di Armidale, New South Wales, Australia, akhir tahun lalu. Dihadapan sekitar 200 ornitolog (peneliti burung) dari berbagai negara, seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris dan Afrika Selatan Surya Purnama mantan aktivis BEM tersebut memresentasikan dua hasil penelitiannya sekaligus. Presentasi pertamanya mengungkap tentang praktik perburuan burung yang berlangsung di Ujung Karawang, Bekasi, Jawa Barat. Hasil penelitian selama dua tahun tersebut cukup menyita perhatian peserta karena mengungkap fakta yang selama ini tidak banyak diketahui. “Sekitar 600 ribu burung yang tercakup dalam 63 spesies dengan 23 spesies di antaranya merupakan burung migran menjadi korban praktik perburuan. Bahkan diantaranya tiga belas spesies dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan 4 spesies termasuk dalam Red Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN,” paparnya. Surya yang juga Anggota kelompok pengamat burung Bionic, yang bernaung di Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (Himabio UNY) menilai praktik perburuan burung merupakan salah satu penyebab turunnya populasi burung di Indonesia. “Meski begitu, kegiatan tersebut telah memberi sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat yang tergolong miskin dan telah berkembang menjadi semacam budaya,” jelasnya. Ia berharap akan adanya solusi yang saling menguntungkan. Burung-burung harus tetap lestari dan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari perburuan burung tersebut harus dicarikan alternatif mencari penghasilan bagi dirinya dan keluarganya. Penelitian lain yang dipresentasikan Surya tentang tentang Populasi dan Karakteristik habitat burung Gagang Bayam di Jawa. Menurutnya, di Indonesia belum banyak penelitian tentang burung pantai bernama ilmiah Himantopus leucocephalus tersebut, meski statusnya telah dilindungi perundangan Indonesia. Keberangkatan Surya ke Negeri Kangguru tidak lepas dari kontribusi banyak pihak. Selain bantuan pendanaan dari pihak fakultas dan panitia konferensi, ia juga mengaku mendapat dukungan dan kepercayaan dari perhimpunan ornitolog Indonesia Indonesian Ornithologist’ Union (IdOU) dan Yayasan Kutilang Indonesia (YKI), lembaga yang selama ini menaungi kiprah penelitiannya. Surya yang kini tengah sibuk menyelesaikan skripsi kepada redaksi mengatakan tidak menyangka hobinya melakukan kegiatan pengamatan burung di alam berbuah menjadi prestasi. Sebelumnya, pada 2005, ia berhasil menjuarai lomba pengamatan burung tingkat nasional di Bogor, Jawa Barat. Di tahun 2006, karya tulisnya tentang migrasi dan flu burung menyabet juara I di tingkat jurusan Pendidikan Biologi dan lolos hingga Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTM) tingkat wilayah (Region B) di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim. Pada 2008, ia dan beberapa rekannya menelurkan sebuah buku berjudul Pedoman Pemantauan Flu Burung (Avian Influenza) Pada Burung Air dan Unggas yang diterbitkan oleh IdOU dan YKI. Tulisannya mengenai berbagai teknik berburu yang digunakan para pemburu burung lokal di Jawa menjadi bunga rampai dalam Global Studies in Indigenous Ornithology: Culture, Society and Conservation. Terbaru, jurnal internasional Vectoor-Boone and Zoonotic Disease memuat H5N1 Surveillance in Migratory Birds in Java, Indonesia, hasil penelitiannya bersama rekan-rekan tentang flu burung pada burung migran. “Awalnya cuma sekadar penyaluran hobi, tapi ternyata hobi yang terkesan aneh itu membuat saya bisa menerapkan teori-teori yang saya dapat di perkuliahan dan membuat saya berkarya dan berprestasi”, ujar Surya yang berasal dari Bantul menutup bincang-bincang dengan redaksi. (Imam T& lensa)