UNY TUAN RUMAH KONFERENSI ASSOSIASI GERMANISTIK INDONESIA

Konferensi jerman

 UNY menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Assosiasi Germanistik Indonesia (AGI) yang digelar untuk pertama kalinya. Konferensi yang berlangsung dari 19-21 Januari merupakan kerjasama Indonesischer Germanistenverband/AGI dengan Program Studi Bahasa Jerman Universitas Negeri Yogyakarta .

Konferensi mengangkat topik “Aspek Interkultural pada Penelitian dan Pengajaran Germanistik di Indonesia” , menghadirkan pembicara utama Prof. Angelika Redder, Universitas Hamburg, Jerman, seorang pakar interkultural dalam studi bahasa, sastra dan budaya Jerman. Selain itu, juga akan dihadiri Dr. Roman Luckscheiter, kepala Bidang Germanistik dan Bahasa Jerman sebagai Bahasa Asing dari DAAD, Boon Jerman. Menurut Dr. Setiawati Darmojuwono, M.A, Ketua AGI Aspek interkultural (antarbudaya/lintas budaya) berperan penting dalam era globalisasi. Kemampuan berbahasa asing saja tidak cukup untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang berbeda latar belakang budayanya. Berkomunikasi dengan orang asing seharusnya mempunyai kemampuan komunikasi antarbudaya agar tujuan komunikasi dapat tercapai. Kemampuan ini juga diharapkan dapat mencegah konflik karena kesalahpahaman budaya.

Setiawati menyampaikan konferensi akan menyajikan 36 pemakalah dari berbagai bidang bahasa, sastra dan budaya Jerman oleh para pakar Indonesia, Jerman, Thailand dan Vietnam serta peserta dari para pakar budaya Jerman di PT-PT se Indonesia. Sehingga lanjutnya, melalui acara ini diharapkan akan membentuk jaringan kerjasama dalam bidang penelitian dan pengajaran. Pada hajatan tersebut juga akan digelar International Seminar On Intercultural Aspect of Germanistic Reseach and Instruction in Indonesia. Menurut wakil Ketua Panitia International Seminar On Intercultural Aspect of Germanistic Research and Instruction in Indonesia, Sudarmaji, M.Pd telah terjadi peningkatan yang cukup singnifikan terhadap minat belajar terhadap kebudayaan Jerman. Menurutnya, di Yogyakarta, ribuan mahasiswa berminat menempuh studi Jerman untuk tiap tahunnya namun kuota yang tersedia hanya 80 mahasiswa. Ditengarai meningkatnya minat studi Jerman karena semakin banyaknya pengguna bahasa Jerman sebagai bahasa teknologi di dunia. Disamping juga tersedianya sekaligus beasiswa untuk studi langsung di Jerman. (tustee/lensa).